Salafy Keras Dalam Ber-agama?

Sekitar tahun 2004-2005, Masjid Pogung Raya Jogjakarta sering diadakan kajian salafy, yang salah satu ustadz pengisinya adalah Ustadz Abu Sa*d yang saat ini berada di Suriah.

Bakda maghrib akan diadakan kajian oleh beliau, kebetulan saat itu masjid tersebut ramai karena bersamaan dengan kedatangan Jamaah Tabligh yang sedang khuruj. Selepas sholat sunnah, Ustadz Abu Sa*d mendatangi salah seorang anggota Jamaah Tablih yang sedang kumpul. Kebetulan saya sedang berada disamping kerumunan tersebut. Sempat khawatir Ustadz Abu Sa*d akan menasehati dengan tegas dan keras, atau lebih khawatir lagi akan terjadi perdebatan dengan anggota JT tersebut.

Tetapi…

Ternyata beliau mendatangi kerumunan Jamaah Tabligh dan mengajak ngobrol, beliau bertanya banyak tentang nama, dari mana, ada keperluan apa, dan lain-lain banyak. Dan tidak satu-pun disinggung tentang Jamaah Tabligh maupun salafy dan perbedaan diantara keduanya. Perbincangan agak sedikit lama sampai kajian mundur dari jadwalnya.

Mata ini menyaksikan dan masih mengingat sampai saat ini, Ustadz Abu Sa*d begitu menghargai mereka para anggota Jamaah Tabligh, memberi salam dan mengajak mereka berbicara terlebih dulu dan tidak cuek begitu saja. Dan karena semua jamaah masjid ikut kajian, maka para anggota Jamaah Tabligh-pun ikut dalam kajian beliau.

Selama ngaji dengan ustadz-ustadz salafy, mereka semua menasehati agar berbuat baik kepada sesama muslim, memulai memberi salam, bertatap muka dengan senyum, mengajak berjabat tangan dan senantiasa bermuammalah dengan baik dengan kaum muslimin. Dimana kerasnya? Atau mau mencoba? Silakan datangi kajian-kajian dengan ustadz yang bermanhaj salaf, tetapi memang Anda harus hati-hati!

Hati-hati, karena sekali mencoba bisa ketagihan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better