Mendamaikan NU Dan Wahabi

Realita yang ada saat ini, islam memiliki banyak fikrah (pemikiran), dan masing-masing fikrah memiliki banyak pengikut. Agak berat menyebut fikrah sebagai golongan atau kelompok, walau memang demikian adanya. Bukan itu yang jadi pokok pembicaraan. Di Indonesia, secara umum yang ada sebut saja; NU atau Asyariyyah), Muhammadiyah, Hizbut Tahrir Indonesia, Ikhwanul Muslimin (PKS), Jamaah Tabligh, Persis, DDII, Hidayatulloh, MTA, Salafy atau wahabi. Untuk syiah dan ahmadiyah tidak termasuk didalamnya.

Mereka semua Ahlussunah waljamaah adalah muslim dan sesama muslim adalah bersaudara. Layaknya saudara dalam hubungan darah, persaudaraan sesama muslim lebih kuat lagi karena ia disatukan oleh AQIDAH, yang dengannya persaudaraan itu akan berlangsung hingga ke akherat, dan akan saling bertemu kelak di surga Alloh, insyaalloh.

Alloh melarang sesama muslim saling berbantah-bantahan, sebagaimana firman-Nya;

وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَنَازَعُواْ فَتَفْشَلُواْ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُواْ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal:46)

Berbantah-bantahan sesama muslim, yakni nama-nama yang disebut di atas saja dilarang, apatah lagi saling berselisih, apatah lagi saling berpecah-belah. Sebab, konsekuensi dari bergolong-golongannya kaum muslimin, maka mereka akan saling membanggakan golongannya, sebagaimana firman Alloh;

“Janganlah kamu seperti orang-orang musyrik, yaitu mereka mencerai beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Setiap golongan membanggakan apa yg ada pada mereka.” (QS. Ar-Ruum: 31-32)

Jika sudah demikian, maka lemahlah kekuatan kaum muslimin, sehingga musuh-musuh islam dari kalangan kafirin dan munafiqin akan tertawa dan senang.

Tidak dipungkiri bahwa perbedaan pendapat diantara kelompok di atas banyak dan sangat banyak, tetapi bukan untuk diperuncing, apalagi untuk orang awam dan masyarakat umum. Jika benar kita menginginkan persatuan kaum muslimin, dan tidak menang-menangan, maka yang berhak berbicara atau berdiskusi dengannya adalah para asatidz (ustadz) kita. Diskusi mereka bukanlah diskusi sembarangan yang tidak berujung pangkal, diskusi mereka akan melahirkan ilmu dan hikmah yang dalam, sehingga masing-masing pengikut akan lebih saling menghargai. Setiap ustadz dari pihak yang berdiskusi memiliki ribuan bahkan mungkin jutaan pengikut, semoga dengannya kita orang awamnya tidak terus-terusan saling menghujat, memaki dan perbuatan-perbuatan lain yang dilarang Alloh dan (sekali lagi) hanya melemahkan kekuatan kaum muslimin.

Kalau mau jujur, Saudara kita dari NU=Asyari, mereka lebih dahulu ada membudaya dan memasyarakat di tanah air. Hormatilah mereka dengan tradisi ibadah mereka. Bagi yang memahami ilmunya, lebih baik mengajak dan memberi pemahaman dengan cara yang terbaik kepada mereka. Bila diterima, itulah yang diharapkan, bila tidak, doakan mereka dan serahkan urusannya kepada Alloh. Kita tidak berhak memaksakan pemahaman kita kepada saudara kita yang NU yang memang belum paham atau belum sampai hidayah kepadanya. Dakwah dan ajakan belum disampaikan, bagaimana bisa kita menuntut mereka berpemahaman seperti kita?

Kalau mau membuka hati juga, saudara kita dari Salafy=Wahabi, mereka ingin beribadah yang murni sesuai sunnah Nabi shallallohu’alaihiwasallam. Ya, saudara kita salafy ini memang ibadahnya agak berbeda kaifiyahnya (tata caranya) dengan NU yang sudah ada lebih dulu. Kita hormati mereka, dan tidak menuduhnya dengan tuduhan macam-macam yang juga akan melemahkan persatuan diantara kita.

Lalu apakah bisa disatukan dari masing-masing mereka? Saya ber-opini, BISA..!! Bagaimana caranya? Saya tidak bisa menjawab, karena keterbatasan ilmu yang saya miliki, dan ada yang lebih berhak menjawabnya, mereka adalah para guru-guru dan ustadz kita yang tercinta, baik dari kalangan NU maupun salafy.

Coba pikirkan, apakah kita akan selamanya bertengkar dan ribut? Apakah pertengkaran dan keributan itu untuk memperbaiki ukhuwah kita? Atau hanya gagah-gagahan dan berbangga dengan golongannya? Kembalikan urusannya kepada ahlinya, bukan kita orang awamnya kaum muslimin. Semakin banyak kita berbicara, semakin jauh jurang pemisah persaudaraan sesama muslim.
Allohu’alam.

One Response to Mendamaikan NU Dan Wahabi
  1. Tamim says:

    Alhamdulillah..
    Ya memang orang NU sangat memerlukan Hidayah dr ALLAH SWT setiap waktu.

    Saya orang NU sangat mengharapkan dapat hidayah baik untuk saya pribadi & keluarga atopun untuk organisasi dan para kyai, ulama, ustadnya dst.

    Alhamdulillah dg hidayah ALLAH SWT para kyai walau diberi titipan ilmu yg banyak tidak sombong dan merasa paling benar.
    Bisa gawat kami para awam klo kyainya sombong dan merasa paling benar.

    Alhamdulillah para kyai2 kami selalu meminta diberi hidayah sama ALLAH.

    Sehingga para kyai ga memakai slogan iblis

    http://www.google.co.id/url?q=http://buyayahya.org/oase-iman/slogan-iblis-akulah-yang-terbaik.html&sa=U&ei=5CZOVb-XMMLuoASNuYHoBQ&ved=0CAcQFjAA&sig2=_9vU05sKS5SM0m6kR8RIMg&usg=AFQjCNFyW2eRBBnpy1VpNKJbpjZ-MTOHag

    Alhamdulillah anda sudah mendo’akan kami yg ga sempurna mendapatkan hidayah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better