Bila Istri Membangkang

Seorang teman berujar kepada saya, “Kamu enak ya punya istri berjilbab besar, pakai cadar lagi, pasti istrimu nurut banget sama kamu”

Dalam hati, emmm… Belum tahu dia!

Dia mengira, wanita kalau sudah bercadar itu seperti bidadari surga yang kebaktiannya kepada suaminya 100%, disuruh apa aja manut dan kemana aja ngikut. Dia lupa bahwa wanita itu tetaplah wanita, bukan bidadari surga, wanita yang masih punya perasaan dan emosi. Dia mungkin tidak tahu bahwa istri kita adalah seorang wanita dunia yang jika sedang marah, seakan ia menjadi manusia yang paling kita benci, dan jika sedang suka, maka jadilah ia manusia yang paling kita cintai dan rindui. Begitulah kehidupan suami istri, adakalanya bertengkar, adakalanya saling bercanda. Dan ini terjadi pada pasangan suami istri dimana saja, tidak hanya pada pasangan berjenggot dan bercadar, selain mereka-pun merasakannya.

Bagaimana jika istri marah dan membangkang kepada kita?

Pertama, diam! Jangan layani dan jangan ditanggapi kemarahannya. Jika marahnya sepertinya bakal lama, kalau saya mending tak tinggal pergi sambil ajak anak. Istri marah banyak penyebabnya;

  • Bisa sebagai uangkapan sayangnya kepada kita. Mana ada orang gak sayang kok dimarahi? Paling-paling didiamkan terus, nah kalau istri sudah diem, justru berpikirlah jangan-jangan ia sudah tidak sayang dan tidak perhatian lagi kepada kita.
  • Bisa karena ia minta perhatian kita karena kelelahan mengerjakan pekerjaan rumah yang seabreg; ngurus anak, nyuci, nyapi, masak, bersih-bersih, dan lain-lain
  • Bisa karena emosinya sedang tidak stabil karena sedang haid atau hamil misalnya
  • Bisa karena kita malas dan tidak perhatian serta enggan membantu pekerjaan istri
  • Bisa jadi istri kita sedang cemburu
  • Bisa juga karena memang ia marah karena kita melakukan kesalahan yang membuatnya tidak suka

Kedua, cobalah koreksi diri kita, adakah dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan sehingga istri membangkang? Mengoreksi diri dan kemudian memperbaikinya lebih baik daripada mencari kambing hitam siapa yang salah siapa yang benar. Ketika istri marah, jangan gunakan parameter salah dan benar, gunakan saja jargon “sing waras ngalah, hee…” Kalau mau menasehati istri, carilah waktu yang tepat. Dan saat istri marah bukanlah waktu yang tepat untuk menasehatinya, sama sekali bukan waktu yang tepat! Jadi tundalah emosi kita, tundalah nasehat itu, gunakan pada saat yang tepat. Kapan waktu tepatnya?

  • Saat sedang jalan-jalan
  • Atau saat bercanda ria diranjang
  • Atau saat makan bersama
  • Yang jelas, saat hati sang istri sedang senang dan gembira

 Ketiga, berusahalah untuk menahan emosi sebisa mungkin. Berpikirlah bahwa istri kitalah yang setiap hari mengurus semua urusan rumah tangga kita, dari urusan makan, sekolah anak, baju dan pakaian sekeluarga, dan seabreg urusan rumah lain. Istri kitalah yang setiap hari berhadapan dengan nakalnya anak-anak kita. Kalau penasaran, cobalah hidup sebulan mengurusi anak-anak dan rumah tangga kita tanpa istri, bisa apa kita?

Ketika istri marah, jangan berpikir;

  • Kita kan laki-laki, capek setiap hari kerja cari nafkah buat istri juga, kita penat menghadapi pekerjaan, kadang dimarahi bos, kadang dimarahi pelanggan, kadang ini kadang itu
  • Kita kan suami yang punya harga diri, masak istri marah-marah semaunya kita suruh diam aja?
  • Kita kan suami yang jadi pemimpin rumah tangga, mestinya istri manut dan nurut sama kita

Kalau itu yang Anda pikirkan, saya ingin mengutipkan sebuah hadist Nabi shallallahu’alaihi wasallam berikut faedah yang bisa dipetik yang sangat saya sukai;

“Tatkala Nabi sedang berada di salah satu rumah istri-istrinya. Suatu ketika salah seorang dari istri Nabi mengutus seseorang untuk memberikan piring yang berisi makanan kepada Nabi. Kemudian seorang istri Nabi memukul tangan utusan tersebut hingga terjatuhlah piring tersebut dan pecah. Nabi pun segera mengumpulkan pecahan piring tersebut, kemudian mengumpulkan makanan yang telah terjatuh dari piring tersebut. Nabi pun berkata, “Ibumu sedang cemburu” Kemudian Nabi menahan utusan tersebut sampai menyerahkan piring baru yang ada di rumah istri beliau, sebagai pengganti piring yang telah pecah tadi, dan membereskan pecahan piring yang tadi” (HR. Al-Bukhari)

Perhatikanlah kisah diatas, bukankah Rosulullah adalah seorang suami yang paling baik? Bukankah Rosulullah adalah seorang khalifah, seorang kepala negara, seorang pemimpin ummat, seorang pemimpin peradaban waktu itu? Dan ketika istri beliau marah didepan sahabat-sahabatnya sambil membanting piring… Beliau tidak mengatakan seperti apa yang kita pikirkan; bahwa kita itu laki-laki yang punya harga diri, yang cari nafkah, bos perusahaan dan bla..bla.. Apa yang dilakukan Rosulullah? Beliau begitu tawadhu’ mengambil sisa makanan yang tumpah dengan tangan beliau sendiri, padahal beliau bisa saja menyuruh sahabatnya untuk mengambilkan. Beliau kumpulkan pecahan piringnya dan beliau ganti dengan piring beliau sendiri. Jatuhkah harga diri beliau didepan para sahabatnya? Sama sekali tidak, bahkan beliau berkata kepada para sahabat “Ibumu sedang cemburu.” dan beliau shallallahu’alaihi wasallam adalah sebaik-baik teladan bagi kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better