Wali Dalam Perspektif Aswaja dan Salafi

Siapakah-Wali-Wali-Allah-Yang-Sentiasa-BertaqarrubAswaja dan salafi sama dalam pendefinisian istilah tentang wali. Wali yang dimaksud disini adalah wali Allah, yakni para kekasih Allah, seorang yang memiliki kedudukan khusus dihadapan Allah. Namun keduanya berbeda dalam derivat (detail turunan) istilah dan penjabarannya.

Wali Dalam Perspektif Aswaja

Aswaja berpandangan, dan ini adalah kenyataan yang ada di tanah air kita, bahwa wali adalah orang yang memiliki karomah-karomah dalam arti khusus, yakni seorang memiliki kesaktian-kesaktian yang diluar jangkauan akal manusia. Masyarakat kita berpandangan bahwa seorang wali haruslah memiliki kesaktian. Semakin tinggi, semakin banyak dan semakin hebat kesaktian tersebut, maka semakin tinggi pula kedudukannya sebagai wali. Maka banyak kita dapati cerita-cerita misalnya;

  • Seorang wali yang memiliki kemampuan bisa terbang,
  • Atau memiliki kemampuan berjalan diatas air,
  • Atau seorang kyiai sholat jumat di Mekah dan asharnya sudah di tanah air lagi,
  • Seorang yang katanya wali sholat diatas daun pisang,
  • Seorang kyiai yang kebal peluru dan kebal senjata, mampu menghilang, mengetahui barang yang hilang, memiliki rambut yang tidak bisa dipotong, atau rambutnya bisa berubah menjadi api..
  • Dan kemampuan irasional lain.

Sayangnya, aswaja menilai kewalian seseorang hanyalah dengan indikasi kesaktian dan kedigdayaannya, dan bukan dengan keimanan dan ketaqwaannya dihadapan Allah. Bahkan sebagian orang menilai, semakin nyleneh dan semakin sakti seorang wali maka semakin tinggi kedudukan walinya. Tidak peduli apakah seorang tersebut beriman dan bertaqwa kepada Allah atau tidak. Tidak peduli apakah seorang tersebut dinilai sholeh dan taat atau tidak. Tidak peduli apakah seorang tersebut melaksanakan perintah-perintah Allah dan ittiba’ diatas sunnah Rosulullah ataupun tidak. Tidak peduli apakah seorang tersebut melanggar larangan Allah dan rosul-Nya ataupun tidak. Yang penting ketika diketahui seorang kyiai itu memiliki kesaktian dan keajaiban maka dianggapnya kyiai tersebut adalah seorang wali.

Hal ini berangkat dari pemahaman sebagian kelompok aswaja yang meyakini bahwa kedudukan seseorang dalam beragama itu bertingkat-tingkat. Dimulai dari yang paling rendah, yakni;

  1. Syareat
  2. Tarekat
  3. Hakekat
  4. Ma’rifat

Seseorang yang sudah mencapai derajat ma’rifat maka dia terlepas dari beban kewajian syariat yang sifatnya ta’lify, artinya dia boleh meninggalkan kewajiban seperti sholat, puasa, zakat dan kewajiban lainnya. Walau dalam hal ini masih terjadi silang pendapat diantara para tokoh sufi, namun secara umum dunia tasawuf menerimanya, artinya ada sebagian sufi yang memahami dan meyakininya demikian.

Misalnya, jika dikatakan;

“Kyiai fulan itu jarang sholat berjamaah, kadang meninggalkan sholat jumat, kadang meninggalkan puasa ramadhan,  atau suka merokok, suka bermain alat musik, dan perbuatan lain yang menyelisihi syariat.. Maka masyarakat menilai bahwa kyiai tersebut telah mencapai derajat hakekat. Kyiai tersebut adalah seorang wali. Kita yang awam tidak bisa menilai perbuatan sang kyiai, yang bisa menilai haruslah sama-sama seorang wali, yakni kyiai lain yang juga sama-sama nyleneh”

Wali Dalam Perspektif Salafi

Berbeda dari aswaja, salafi menimbang atau menilai kewalian seseorang bukanlah dari kesaktian dan keajaiban yang dimilikinya, namun timbangannya berdasarkan dari amalannya, apakah sesuai dengan perintah Allah dan rosul-Nya ataukah tidak. Jika seseorang itu diketahui memiliki kesaktian dan kemampuan diluar akal manusia dan dia diketahui sebagai seorang yang bertauhid kepada Allah, iltizam diatas sunnah nabi dan beramal dengan amalan sholeh dan shahih, maka bisa jadi ia seorang wali Allah. Namun patokan utamanya bukanlah pada kesaktiannya, akan tetapi pada amalannya.

Berangkat dari ini semua, maka bagi salafi seorang wali haruslah seorang yang sholeh dan taat kepada Allah dan rosul-Nya, ia haruslah seorang yang sangat takut kepada Allah, ia haruslah seorang yang menegakkan sholat berjamaah di masjid, ia haruslah seorang yang senantiasa menjaga sholat malamnya, ia haruslah seorang yang senantiasa mengerjakan sunnah-sunnah seperti; sholat, puasa, tilawah, sadaqah dan amalan sunnah lainnya. Seorang wali tersebut juga  bukan seorang yang suka bermaksiat kepada Allah, seperti; menyanyi atau bermain musik, merokok, apalagi melakukan dosa semisal minum khamr dan zina. Yang demikian ini di mata salafi jelas bukan seorang wali. Bisa jadi dia seorang wali, namun wali setan.

Wali di mata salafi sebagaimana wali yang Allah sebut dalam Al-Quran surat Yunus ayat 62-63, Allah telah menjelaskan definisi wali Allah,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

“Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati -jaminan masuk surga- (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa wali Allah adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Mereka merealisasikan keimanan di hati mereka terhadap semua yang wajib diimani, dan mereka merealisasikan amal sholih pada anggota badan mereka, dengan menjauhi semua hal-hal yang diharamkan seperti meninggalkan kewajiban atau melakukan perkara yang harom. Mereka mengumpulkan pada diri mereka kebaikan batin dengan keimanan dan kebaikan lahir dengan ketaqwaan, merekalah wali Allah.

8 Responses to Wali Dalam Perspektif Aswaja dan Salafi
  1. suharto says:

    apakah aswaja dan salafi berbeda sehingga dalam judulnya harus aswaja dan salafi.?

    • masjumat says:

      Itu terminologi secara umum..

    • bedote says:

      Kayake lho,aswaja ntuh ikut nabi muhammad,khulafaurrosydin,Sahabat,tabi’in tabiat,Imam hanafi,maliki,safi’i,hambali,as’ary,pokoknya kyai yang berpegang pada yang tersebut.klo salafi kembali pada alquran dan hadist apa adanya,seperti Muhammad bin abdul wahab,ibnu bin baz,albani dan utsaimin Dan ustadzs yang sepaham dengan aliran salafi,wallohua’lam,mohon koreksi

  2. ilmudes says:

    Maaf, Aswaja yg mana yg admin maksudkan di sini?
    Kalau setahu saya, islam terbagi dlm bnyk golongan2, tp cuma 1 yg selamat…

  3. Bagio says:

    Sebenarnya tulisan di atas landasannya sgt minim dan terlalu subjektif, seperti terminologi wali di atas. Namun akan panjang jika dituliskan [mgkn jika ada waktu, akan sedikit ikut mengulasnya. Namun utk tasawuf, ini sedikit kritik kecil dari tulisan di atas kpd masjumat, moga berkenan… 🙂
    http://pustakamadrasah.blogspot.co.id/2015/06/sufi-dan-syariat.html

  4. Abu Abdillah says:

    Semoga berkah….
    mohon izin share yaa…
    Terima kasih

  5. Murid says:

    Ya Allah fitnah apalagi ini, sekejam itu anda mencari kesalahan2 sesama kaum muslimin, saya sangat kenal aswaja, fahamnya tidak seperti itu. saya sangat kenal wahabi sepatutnya tidak seperti itu. Ayat Al-Qur’an yang mana atau hadis shahih yang mana yang kalian jadikan dasar berda’wah dengan cara mencela seperti ini. Apakah jika Abdullah bin Abdul Wahab bertemu dengan Hasyim Asy-‘ari mereka akan saling mengolok2 seperti ini. Bukankan mereka akan saling bersalaman kemudian berpelukan sebagaimana layaknya dua orang Islam utama yang saling bertemu. Siapa sebenarnya kalian, yang mengaku aswaja dan mengaku salafy. Tidak layak mengaku aswaja jika berani mencela sesama muslim, tidak layak mengaku salafy jika berani mencela sesama muslim. Apakah salafus shalih berani mencela saudaranya sesama muslim, apakah ahli sunnah wal jama’ah berani mencela saudaranya sesama muslim. Ini cara da’wah yang mencoreng ketinggian agama Islam agama yang “ya’lu wa laa yu’la ‘alaih”. Kembalilah kepada agama yang hanif saudaraku, agama Islam bukan kelompok2 kecil. Agama Islam adalah agama yang besar, yang ummatnya akan memenuhi surganya Allah SWT. Jika betul2 berpegang kepada Al-Qur’an dan hadis, tentu tidak akan saling mencela dan menistakan saudaranya sesama muslim. Tunjukan kepada saya satu ayat saja atau hadis shahih saja yang membenarkan peraktek dakwah saling mencela seperti ini. “Astaghfirullahal’adzim”.

  6. Gundhul says:

    Mas jumat tobato mas, ojo atos atimu karo raimu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better