Bagaimana Menyikapi Tokoh Islam yang Membela Ahok?

quran-alfithroh46-wordpress-com-asBagaimana menyikapi segolongan umat islam yang membela Ahok dalam kasus Surat Al Maidah 51 yang ternyata ada sebagian diantara mereka dari kalangan cendekiawan, tokoh dan bahkan kategori ulama? Sebut saja nama seperti; Prof. Syafi’i Maarif, Nusron Wahid, Prof. Sumanto Al-Qurthubi, Prof. Nadirsyah Hosen, termasuk Ketua Umum PBNU Kyiai Said Agil Siradj yang juga seorang profesor. Dan masih banyak lagi pembela Ahok dari kalangan cendekia dan tokoh islam.

Al Maidah 51;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. Al-Maidah: 51)

Nah, kelompok minoritas dalam islam yang membela Ahok mengeluarkan berbagai dalil dan alasan untuk membelanya yang pada intinya Ahok tidaklah sedang melecehkan Al-Quran terutama Surat Al Maidah 51. Siapa saja yang beranggapan demikian, maka dia salah tafsir. Mulailah pembela dan pendukung Ahok menafsirkan makna auliya dengan teman, teman setia, sahabat, teman karib, dan lain-lain yang ternyata justru jika dimaknai demikian maka akan lebih parah lagi konsekuensinya. Bagaimana tidak? Menjadikan teman saja tidak boleh, apatah lagi mengangkatnya menjadi pemimpin, tentu lebih tidak boleh lagi!

Kemudian ada juga diantara mereka yang meminta untuk memaafkan perbuatan Ahok dan menyudahi polemik tentangnya dengan alasan yang bersangkutan sudah meminta maaf. Menurut mereka jika pelaku sudah meminta maaf, maka ya sudah kita maafkan. Jangan diperpanjang, apalagi sampai ke proses hukum. Allah saja Maha Pemaaf kok kita tidak mau memaafkan. Begitu kira-kira pendapat mereka. Kalau begitu, berapa banyak pelaku kejahatan yang bisa bebas dari hukuman hanya dengan meminta maaf? Maling, koruptor, pemerkosa, pembunuh dan lain-lain cukup dengan meminta maaf dan setelah itu bebas dari hukuman.

Menyikapi tokoh islam seperti ini, umat terbagi menjadi dua; ada yang mendukungnya, ada juga yang menolaknya (antitesa). Yang mendukungnya beralasan; mereka kan para tokoh dan cendekia islam, sebagian malah kyiai yang bergelar professor, banyak diantara mereka yang tokoh terpandang dan panutan masyarakat. Bagaimana mungkin mereka salah?

Menyikapi tokoh-tokoh seperti ini, Allah telah menjelaskan kepada kita, siapakah mereka dalam lanjutan ayat diatas;

Al Maidah 52;

“Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” (QS. Al-Maidah: 52)

Maksudnya;

  • “Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya” yakni keraguan, kebimbangan dan kemunafikan
  • “bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani)” maksudnya mereka bersegera berteman akrab dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani secara lahir batin
  • “seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana” maksudnya mereka melakukan demikian dengan alasan bahwa mereka takut akan terjadi suatu perubahan, yakni orang-orang kafir beroleh kemenangan atas kaum muslimin. Jika hal itu terjadi, berarti mereka akan beroleh perlindungan dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, mengingat orang Yahudi dan Nasrani mempunyai pengaruh sendiri dikalangan mereka, sehingga sikap berteman akrab dengan mereka dapat memberikan manfaat ini.

Subhanallah.. Ketika kita bingung bagaimana menyikapi para tokoh dan cendekia tersebut, ternyata Allah telah menjawabnya sendiri.

Permasalahan lain muncul ketika dalam hati kita sudah tertanam kecintaan yang mendalam kepada para tokoh yang membela Ahok dalam kasus Al Maidah 51, tentu akan sangat sulit untuk percaya bahwa sang tokoh dalam hal ini keliru. Harus diakui, bagi sebagian orang sulit meninggalkan fanatisme dan menanggalkan ketokohan kepada seseorang (figuristik), apalagi jika itu sudah tertanam sejak lama.

Jalan keluarnya hanyalah tunduk dan berserah diri kepada perintah agama dan meninggalkan segala macam fanatisme dan ketokohan seseorang, karena sikap yang sepertinya remeh itu terkadang bisa menjerumuskan seseorang kepada kekufuran dan kemunafikan, wal iyadzubillah..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better