Pilkada DKI 2017 Diwarnai Isu SARA?

15032208_10209643318512714_9112506890694878501_nMengapa bahasan ini perlu diulang-ulang? Karena diluaran sana masih banyak yang percaya dan menganggap islam mengajarkan SARA dengan melarang umatnya memilih pemimpin yang tidak se-agama (non muslim). Islam melarang memilih pemimpin kafir berdasarkan Al Quran. Apakah benar demikian?

Perlu ditegaskan sekali lagi bahwa definisi SARA adalah;

“Sara adalah berbagai pandangan dan tindakan yang didasarkan pada sentimen identitas yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan atau kesukuan dan golongan. Setiap tindakan yang melibatkan kekerasan, diskriminasi dan pelecehan yang didasarkan pada identitas diri dan golongan dapat dikatakan sebagai tidakan Sara.”

Stress point dari definisi di atas ada pada kalimat “didasarkan pada SENTIMEN dalam pandangan dan tindakan yang disertai dengan KEKERASAN, DISKRIMINASI dan PELECEHAN atas unsur suku, ras, agama dan antar golongan”

Pertanyaannya, apakah ketika ada ulama atau dai yang menyeru umat islam untuk memilih pemimpin dari kalangan sendiri dan melarang memilih pemimpin kafir berdasar pada kitab sucinya ada unsur sentimen, diskriminasi (tidak adil), tindak kekerasan dan pelecehan (terhadap agama)? Jika tidak ada, maka itu bukan SARA. Dalam konteks pilkada itu disebut dengan PREFERENSI, yakni hak memilih calon pemimpin sesuai selera dan kecenderungan yang kadang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah, namun kadang tidak (asal memilih sesuai selera). Dan itu sah secara hukum dan tidak melanggar perundang-undangan yang berlaku di negeri ini.

Bisa disebut SARA jika ajakan larangan memilih pemimpin kafir tersebut disertai dengan ucapan dan tindakan yang disertai rasa sentimen dan perendahan atau pelecehan.

Sama halnya seperti ketika kita memilihkan calon menantu untuk anak kita, kecenderungan kita tentunya akan memilih yang se-agama, atau se-suku dan kriteria lain. Jika itu kita terapkan, apa kita mau dibilang SARA juga? Begitu juga ketika kita sebagai pemilik perusahaan hendak mencari karyawan dengan menerapkan kriteria; muslim, sholat, berhijab, dll. Apa kita dibilang SARA juga?

Penganut Kristen tentu wajar memilih pemimpin Kristen. Dan wajar juga jika para pemimpin agama Kristen menganjurkan para jemaatnya untuk memilih pemimpin yang beragama Kristen. Demikian juga para ulama dan dai islam, mereka juga akan menganjurkan ummatnya untuk memilih pemimpin muslim sesuai petunjuk dan anjuran Al Qur’an sebagai kitab sucinya. Mungkin umat islam dianggap fanatik karena membawa-bawa Al Qur’an. Lha memang iya, kelebihan islam itu kan mengatur semua sendi kehidupan dari bangun tidur sampai tidur lagi, dari tiang gendongan sampai liang lahat. Yang mana itu semua tidak diajarkan di agama selain islam.

Sudah tercerahkan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better