Sosial Media, Mau Berperan Sebagai Apa Kita?

social-media-mobile-icons-snapchat-facebook-instagram-ss-800x450-3-800x450Sosial media itu mimbar bebas, tempat dimana kita menuliskan ide dan pikiran kita. Tempat kita menyuarakan idealisme dan mendakwakan keyakinan yang kita yakini agar didengar masyarakat luas, terutama di dunia maya.

Kita tahu dengan pasti bahwa sosial media di isi banyak orang dan kelompok yang setiap mereka menyuarakan apa yang diyakininya benar. Di sana ada kelompok yang memiliki kesamaan pandangan dengan kita, namun banyak juga yang berlawanan dengan kita.

Persoalannya sekarang, mau kita pakai untuk apa media sosial yang kita ikuti?

  1. Berdakwah, menyebarkan ajaran agama yang kita yakini, mengajarkan kepada masyarakat nilai-nilai moral yang bersumberkan syariat islam, membersihkan masyarakat islam dari pemahaman dan keyakinan yang menyimpang dari sumber hukum islam (Al Quran dan al Hadist) dan mendidik mereka di atas keyakinan itu. Ini yang biasa oleh ulama disebut sebagai tashfiyah dan tarbiyah. Kelompok ini biasanya bagiannya para ustadz dan dai yang konsen berkecimpung di medan ilmu dan dakwah, walau siapapun kita bisa saja masuk didalamnya dengan niat ikhlas dan dengan cara yang dibenarkan syariat. Banyak celah dan ruang kebaikan yang bisa kita manfaatkan untuk itu. Hal yang paling mudah misalnya membagikan postingan ilmu atau meme ajakan kepada kebaikan agar viral dan dibaca masyarakat luas yang jika ada nilai ibadah yang diamalkan, maka kita ikut andil pahala didalamnya
  1. Perang opini. Kelompok ini bagiannya orang-orang yang memiliki kemampuan dan kelebihan dibidangnya, seperti; pengamat, peneliti, ahli hukum, ahli politik, ekonom, pengusaha, praktisi, dan lain-lain. Semua profesi itu bisa digunakan sebagai modal mengkampanyekan nilai kebenaran dan kebaikan yang kita yakini. Tugas mereka yang tidak kalah penting adalah mengkonter pemikiran dan opini yang berkembang yang berupaya menggiring, memelintir dan menyesatkan masyarakat sehingga opini yang terlanjur dipahami adalah seperti apa yang dipahami oleh mereka, para penyesat. Oleh karenanya, hal ini juga menjadi tugas kita semua memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang sebuah opini yang berkembang agar masyarakat memahaminya dengan pandangan yang positif dan konstruktif yang kita bangun.
  1. Tidak melakukan kedua hal di atas, tapi suka mengomentari keduanya dengan nada sumbing dan miring. Tidak melakukan apa-apa tapi menempatkan dirinya sebagai hakim atas kelompok pertama dan kedua. Kelompok ini mudah sekali menjatuhkan vonis dan justifikasi atas apa yang dilakukan dua kelompok di atas, sementara dia sendiri tidak berbuat apa-apa di sosial media.

Ingat.. ini sosial media, ya.. sosial media. Kalau kita tidak menyuarakan kebenaran, dan makin banyak suara kebatilan yang terdengar di mimbar bebas ini, hal itu otomatis akan berimplikasi suara kebenaran akan semakin tenggelam. Kalau kita tidak/belum bisa menjadi kelompok pertama atau kedua, maka diam itu lebih baik dari pada menjadi kelompok ketiga yang secara tidak sadar akan ikut membungkam suara kebenaran dan justru membiarkan kebatilan menyebar.

Kita mau jadi bagian yang mana?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better