Terorisme Badut

Akhir-akhir ini kita sering disuguhi pemberitaan seputar ‘terorisme’ dimana seseorang meledakkan bom atau menembakkan pistol ke kerumunan. Seketika itu pula headline media baik lokal maupun mainstream penuh dengan pemberitaan seputar terorisme. Masyarakat kita juga latah dengan begitu mudahnya percaya setiap informasi yang beredar tanpa mencari sumber-sumber lain yang bisa lebih dipertanggungjawabkan. Lebih celaka lagi adalah efek dari itu semua, mereka percaya bahwa terorisme itu lekat dengan sesuatu yang berbau islam. Dengan kata lain, setiap bentuk teror selalu dikaitkan dengan islam dan gerakan islam..

Saya mencoba mencari referensi tentang apa itu terorisme secara objektif, dan seperti biasa dapatnya disini;

https://id.wikipedia.org/wiki/Terorisme
http://kbbi.web.id/terorisme

Kesimpulan atau inti dari suatu kegiatan terorisme adalah “Penggunaan kekerasan atau ancaman kekerasan menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan harta benda orang lain atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek-objek vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas Internasional”

Jika kita bandingkan definisi terorisme di atas dengan bentuk-bentuk teror yang ada di negeri ini seperti pada kasus;

  1. Bom Polres Cirebon
  2. Bom buku
  3. Bom Sarinah
  4. Bom panci di depan Istana Negara
  5. Bom Cicendo Bandung

Sepertinya sulit kasus pemboman di atas bisa dikategorikan sebagai bentuk terorisme. Unsur terornya sama sekali tidak nampak, seperti;

  1. Masyarakat jadi takut karena efek bom tersebut, karena faktanya justru warga pada saling berkerumun ingin menyaksikan ada apa gerangan. Fakta lain, si pelaku sempat ditantang duel oleh pelajar SMA karena kesal atas ulahnya yang mencoreng Kota Bandung
  2. Dari sisi korban dan jumlah korban pun sangat minimal. Yang ada justru pelaku teror yang akhirnya harus mati baik oleh tindakan bom bunuh dirinya tersebut ataupun oleh tembakan aparat. Dalam terorisme, ada target atau tujuan tertentu yang ingin dicapai ke korban, misalnya jumlah korban banyak, atau korban sedikit tetapi salah satu korbannya adalah pejabat penting negara
  3. Tidak ada fasilitas umum atau bahkan fasilitas vital milik negara yang rusak, lalu apa maksud tindakan pengeboman itu?
  4. Efek publisitasnya juga sangat minim, hanya media lokal saja yang membesar-besarkan. Tidak ada media asing yang tertarik mengulasnya, apalagi sampai menjadikannya headline

Kita bisa terima itu bentuk terorisme misalnya seperti pada kasus;

  1. Serangan WTC 2001 yang memakan korban sekira 3000 orang dan melibatkan banyak sekali unsur negara dan masyarakat
  2. Bom Bali 1 yang memakan korban mencapai 300 orang yang mayoritas warga negara Australia
  3. Bom Marriot yang meledak di wilayah vital dan strategis dengan korban 11 orang meninggal dan puluhan lainnya luka-luka. Atau juga bom Bali 2 yang memakan korban 22 orang dan puluhan lainnya luka-luka..

Terlepas siapa pelaku tindakan terorisme tersebut, apakah personal terorism, grup terorism, atau juga state terorism. Itulah bentuk terorisme yang sebenarnya.

Kembali ke persoalan bom-bom mini di atas, kita lebih percaya bahwa itu sebagai bentuk ‘pengalihan isu’ atau ‘operasi intelijen.’ Masyarakat harus cerdas menyikapi keadaan ini, jangan mau terus dibodohi, nanti jadi bahan candaan negara lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better