Salafi Ngomong Politik?

Saya termasuk yang kurang sependapat jika ada pihak yang melarang berbicara politik di sosial media dan menyarankan agar hanya fokus membahas ilmu agama dan sharing sesuatu yang bermanfaat. Seakan-akan pembahasan politik oleh sebagian kawan-kawan adalah politik praktis murni dan seakan-akan pembahasan tentang isu-isu kekinian yang memang banyak bersentuhan dengan politik adalah sesuatu yang tidak bermanfaat dan menyibukkan diri didalamnya adalah sesuatu yang sia-sia.

Apa yang di bahas kawan-kawan salafi mengenai isu-isu politik sejatinya bukan bahasan politik secara total. Kita hanya melakukan konter atas isu-isu politik nasional terutama yang menyerang pihak islam, baik menyangkut person tokoh muslim tertentu maupun ajaran islam itu sendiri. Andai kita semua diam dalam masalah ini, betapa banyak orang awam yang tersesatkan secara opini atas ulah kelompok anti islam. Dan betapa banyak orang-orang awam yang tersadarkan dan tercerahkan atas konter yang kita lakukan?

Konter opini yang dianggap sebagi bahasan politik dan diharamkan oleh sebagian teman-teman bahkan kadang diperlukan sebagai konsekuensi bersosial media. Sebab opini-opini sesat yang dilempar ke publik oleh kelompok anti islam tidak dibahas di kajian-kajian, para ustadz dan guru ngaji tidak mengajarkannya. Contoh yang paling mudah kelihatan dan sering kita konter adalah opini sesat ulah kelompok syiah kontemporer yang banyak memfitnah negeri Arab Saudi dan ahlussunnah secara umum. Bagaimana mereka memfitnah katanya Saudi pendiri ISIS, Saudi mau mem-bom masjidil Haram, Saudi membuka sex shop, dll.

Juga ulah kelompok sepupunya syiah, yakni kelompok liberal kontemporer yang sering mengolok-olok ulama islam dan menjadikan syariat islam sebagai bahan cemoohan. Mereka katakan jilbab tidak wajib, boleh mengangkat pemimpin kafir, mereka juga meragukan kredibilitas MUI bahkan menyerang secara entitas kelembagaan tersebut dan menuntut dibubarkan saja. Bagaimana pula mereka membuat penyesatan pemikiran atas ulah Ahok yang ramai belakangan ini.

Jika kita diam dan tidak mengkonter isu-isu kontemporer yang menyerang islam dan kaum muslimin, orang awam tentu akan terseret ke arus pemikiran mereka. Diam saat itu tentu bukan hal yang terpuji.

Kawan-kawan yang melarang ‘ngompol alias ngomong politik’ sebetulnya juga diam-diam mengikuti arus pemberitaan politik, bahkan lebih dari itu, mereka mengikuti arus pembahasan kita, mengikuti tulisan-tulisan kita. Sayangnya, mereka bukannya mengkonter opini sesat yang dilemparkan kelompok anti islam, namun justru mengkonter opini yang kita lemparkan untuk kelompok anti islam. Sangat disayangkan sebagian kita lebih suka bertengkar dan menyerang pendapat sesamanya serta membiarkan orang kafir dan kelompok sesat lainnya bebas menularkan virus pemikiran sesatnya kepada awamnya kaum muslimin.

Pun begitu, saya juga tidak sepakat jika ada teman yang setiap hari membahas isu politik, bahkan hampir setiap status isinya politik, atau bahkan cenderung ikut memanaskan situasi politik nasional. Yang proporsional saja..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better