Kritik ke Pemerintah = Berontak?

Saya terlihat mengkritik dan menyerang pemerintah atau rezim saat ini bukan untuk memprovokasi apalagi berniat memberontak ke pemerintah yang sah, sama sekali tidak! Namun sebagai warning kepada pembaca agar tidak memilihnya kembali di 2019, tentunya dengan alasan-alasan seperti yang biasa saya tulis dan Anda ketahui tentang bagaimana rezim ini bekerja, apalagi perlakuan rezim kepada umat islam dan ulamanya.

Kritikan itu sesuatu yang dibolehkan menurut konstitusi kita, dan bukan bentuk bughot (pemberontakan).

Kalau Anda merasa islam kita terancam oleh rezim, minimal terkekang. Kalau Anda merasa rezim sekarang tidak berpihak ke islam, maka saran saya jangan pernah pilih untuk periode 2019-2024. Namun perlu diingat, titik krusialnya bukan saja pada 2019 saat pilpres. Namun semua dimulai pada 2018 saat pilkada serentak. Kita sebagai umat islam harus menguasai Pulau Jawa sebagai basis suara nasional. Jika Jawa dikuasai, insyaallah kita bisa memenangkan secara nasional.

Apa dikira rezim tidak tahu kalau mereka tidak disukai mayoritas umat islam? Padahal itu berbahaya bagi perolehan suara rezim pada 2019? Tentu tahu sekali. Lalu mengapa rezim tetap saja mengeluarkan aturan yang menyulitkan posisi umat islam dan terus memojokkan kaum muslimin?

Menurut saya; biasanya pada akhir 2018 akan ada program pro rakyat secara jor-joran untuk menarik simpati rakyat. Uang negara akan digunakan melalui program-program pemerintah. Ini alasan klise aja supaya rezim mendapat hati masyarakat.

Saran saya; terima uang dan programnya, tolak partai dan orangnya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better