Kisah Budak yang Lebih Mulia dari Seorang Khalifah

Ilmu akan mengantarkan pemiliknya kepada derajat yang tidak dimiliki para pemilik harta, bahkan para raja dan khalifah sekalipun.

Syahdan, Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik (raja tertinggi dimuka bumi) mengajak kedua putranya menemui seseorang, seorang tua Habsyi (Ethiopia) berkulit hitam, keriting rambutnya dan pesek hidungnya, beliau duduk laksanan burung gagak yang berwarna hitam. Sang Khalifah mencari orang tua tersebut dan didapatinya sedang sholat, maka menunggulah sang khalifah sementara putranya gusar, keheranan, ada gerangan apakah seorang khalifah duduk menunggu seorang lelaki tua hitam keturunan afrika sholat. Setelah selesai, maka orang tua tersebut menemui Sulaiman bin Abdul Malik.

Sang Khalifah mengucapkan salam yang dibalas dengan yang serupa, kemudian mulai mengajukan berbagai pertanyaan, dan orang tua tersebut-pun menjawabnya dengan rinci, dan dia sandarkan seluruh pendapatnya kepada hadist Nabi shallallohu’alaihiwasallam. Setelah selesai, khalifah mendoakan orang tua tersebut agar mendapat balasan yang lebih baik, lalu khalifah berkata kepada kedua putranya, “Berdirilah kalian!”, maka berdirilah keduanya dan beranjak meninggalkan tempat.

Ditengah perjalanan, kedua putra khalifah mendengar seruan, “Wahai kaum muslimin, tiada yang berhak berfatwa kecuali Atha bin Abi Rabah, jika tidak ada, hendaknya menemui Abdullah bin Abi Najih”. Salah seorang putra khalifah bertanya, “Petugas menyuruh manusia meminta fatwa kepada Atha bin Abi Rabah dan temannya, namun mengapa kita jadi justru bertanya kepada seorang laki-laki yang tidak memberikan prioritas khusus dan haknya kepada khalifah?”

Sulaiman bin Abdul Malik berkata kepada putranya, “Wahai anakku, pria yang kamu lihat dan engkau melihat kami berlaku hormat dihadapannya tadilah yang bernama Atha bin Abi Rabah, orang yang berhak berfatwa di Masjidil Haram. Beliau mewarisi ilmunya Abdullah bin Abbas dengan bagian yang banyak.” Kemudian beliau menlanjutkan, “Anakku, carilah ilmu! Karena dengan ilmu rakyat bawahan bisa menjadi terhormat, para budak bisa melampaui derajat para raja!
(Dari kitab shuwaru min hayati at-tabi’in)

Lihatlah, bagaimana seorang tua Habsyi (Ethiopia) berkulit hitam, keriting rambutnya dan pesek hidungnya, tetapi khalifah-pun menghormatinya bahkan membutuhkannya, sementara orang tersebut tidak membutuhkan sang khalifah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better