Mukmin, Kafir dan Munafiq

Dalam konteks mukmin dan kafir, konstelasinya sangat jelas terpetakan;

  1. Mukmin
  2. Kafir
  3. Munafiq

Pertama, Mukminin..
Mereka adalah muslimin, orang islam yang menjalankan syariat aganya dan memiliki semangat membela agamanya. Dalam golongan ini, bisa jadi ada orang-orang yang imannya kuat dan ibadahnya juga kuat. Namun bisa saja ada yang ibadahnya pas-pasan dan juga masih berbuat maksiat kecil serta tidak berbangga dengan maksiatnya. Tetapi mereka semua adalah kaum yang ketika islam dihinakan, mereka akan bangkit membela dengan segenap harta, jiwa dan raga. Mereka akan bergabung bersama jamaatul muslimin membela agamanya melawan para perusak agama.

Kedua, Kafirin..
Dalam terminologi islam, mereka adalah orang-orang non muslim, yakni mereka mengingkari Allah ta’ala sebagai Tuhan dan Nabi Muhammad sebagai nabi sekaligus rosul. Maka, semua penganut agama selain agama islam disebut kafir. Sekali lagi, ini dalam terminologi syariat islam.

Ketiga, Munafiqin..
Nah, bicara kaum munafiq dengan konteks yang kita perbincangkan, mereka bukan saja yang memiliki ketiga ciri sebagaimana yang disebutkan Nabi Muhammad dengan;

  1. Jika berbicara, bohong
  2. Jika berjanji, tidak ditepati
  3. Diberi amanah, khianat

Tetapi lebih dari pada itu, mereka adalah orang yang ketika terjadi pertikaian antara mukminin vs kafirin, munafiqin ini berada satu kubu dengan kafirin memerangi mukminin. Terlepas dari dzahir mereka yang masih sholat, puasa, pakai peci atau berjilbab, fasih membaca AlQur’an, memimpin majlis taklim, atau bahkan mungkin pimpinan pondok pesantren sekalipun. Tetapi mereka senang jika barisan mukminin mendapat kesulitan, mereka bergembira ketika umat islam kalah, mereka bersorak-sorai ketika kaum muslimin dalam kondisi terdesak. Atau malah mereka sendiri yang punya inisiatif memerangi umat islam..

Maka sebaiknya cek posisi kita ada dimana ketika mukminin vs kafirin berlangsung. Apakah hati kita condong berada di barisan kaum muslimin, sedih ketika umat islam kalah, sebaliknya senang ketika umat islam menang. Ataukah hati kita lebih condong dan nyaman bersama orang-orang kafir yang berusaha menyakiti perasaan umat islam. Berbahagialah jika kita dapati hati kita condong kepada orang-orang beriman. Sebaliknya, muhasabahlah (koreksi diri) ketika hati kita lebih condong dan nyaman berada satu barisan dengan orang-orang kafir..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better