Siapa Bertanggungjawab Atas Darah Al-Husain Radhiallahu Anhu? (1)

Sebelumnya perlu diketahui, bahwa oposisi yang dilakukan Al-Husain bin Ali Radhiallahu Anhu terhadap kekuasaan Bani Umayyah, tujuannya adalah untuk mengembalikan sistem syura dalam pemerintahan Islam, dan bukan sistem pewarisan kekuasaan.

Hal mana, sikap beliau ini harus dibayar mahal berupa pembantaian keji terhadap beliau beserta Ahlul Bait Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam di Karbala. Padahal, beliau telah ajukan opsi perdamaian. Bahkan telah menyatakan kesiapan diri memberi bai’atnya kepada Yazid bin Mu’awiyah, seperti diceritakan dalam riwayat Shahih.

Akan tetapi, semuanya telah terjadi. Beliau terbunuh secara zalim. Dan yang tersisa saat itu adalah sebuah pertanyaan besar, siapa yang bertanggungjawab terhadap darah beliau? Siapa yang berada di balik seluruh kezaliman terhadap ahlu bait Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam?

Nah, sebelum kami ungkap siapa yang bertanggungjawab atas pembunuhan Al-Husain bin Ali, tidak ada salahnya kita uraikan terlebih dahulu beberapa riwayat dari Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam yang jauh sebelumnya telah memberi kabar akan kesyahidan cucunya itu.

Pertama: Dari Ummu Salamah radhiallahu anha, ia berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah duduk di rumahku, lalu berkata: “Tidak boleh ada seorang pun yang masuk menemuiku”.

Maka aku menunggu, tiba-tiba Al-Husain masuk, maka aku mendengar tangisan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Aku sempat menengok dan melihat Al-Husain berada di pangkuan beliau, atau di sampingnya. Saat itu beliau mengusap kepala Al-Husain sambil menangis.

Aku pun berkata: “Demi Allah, aku tidak tahu kalau dia telah masuk”. Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sungguh Jibril juga ada dalam rumah ini. Ia bertanya (padaku): “Apakah engkau mencintainya?” Aku menjawab: “Adapun di dunia ini, iya”. Jibril berkata lagi: “Sungguh Ummatmu akan membunuhnya di sebuah daerah yang bernama Karbala. Lalu Jibril mengambil tanahnya dan memperlihatkan pada Rasulullah”.

Olehnya, tatkala Al-Husain dikepung pada hari pembunuhannya, beliau sempat bertanya: “Apa nama daerah ini?” orang-orang menjawab: “Karbala”. Al-Husain kemudian berkata: “Sungguh benar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, ini adalah negeri Kar (kesedihan) dan bala’ (musibah)”. (Riwayat Ath-Thabarani dalam “Mu’jam Al-Kabir”, no. 637. Juga Imam Ahmad dalam “Fadhail Ash-Shahabah 2/782).

Kedua: Dari Ammar (Ibnu Abi Ammar), dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, ia berkata: “Aku bermimpi di siang hari melihat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berambut kusut dan berdebu, membawa sebuah botol berisi darah yang beliau pungut.

Maka aku bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah itu?” Beliau menjawab: “Darah Al-Husain dan pengikut-pengikutnya. Aku terus memungutinya sejak hari ini”. Ammar –perawi riwayat ini- berkata: “Maka kami mengingat-ingat hari itu, dan kami dapatkan pembunuhannya (Al-Husain bin Ali) terjadi pada hari tersebut”. Riwayat Ahmad dalam “Fadhail Ash-Shahabah 2/778, dengan sanad Shahih.

Riwayat-riwayat di atas, di samping memuat kabar tentang pembunuhan Al-Husain, juga sekaligus menguatkan akan bukti kebenaran nubuwat beliau. Bahwa perkara-perkara ghaibiyah yang beliau kabarkan semuanya terbukti; termasuk dalam hal ini berita terbunuhnya Al-Husain bin Ali.

Namun yang celaka, ketika peristiwa ini dimanfaatkan oleh para pembual dari kalangan qusshas (tukang dongeng), serta kelompok Syi’ah. Mereka tidak ketinggalan memanfaatkan tragedi Karbala dengan mengarang berita-berita palsu penuh sensasi untuk menarik perhatian.

Katanya, saat pembunuhan Al-Husain, terjadi hujan darah dan dinding-dinding mengeluarkan darah. Juga batu yang diangkat terdapat di bawahnya genangan darah, unta yang disembelih semua bagian tubuhnya menjadi darah dan selainnya, lantaran sedih dengan peristiwa syahidnya Al-Husain. Semua itu adalah kebohongan, dan tidak bersumber dari rujukan yang shahih.

Tidak syak lagi, tragedi Karbala merupakan satu kecelakaan sejarah yang membuat hati miris. Iya, kita layak bersedih akan petaka tersebut. Akan tetapi, bagi seorang Mukmin, mata boleh menangis. Hati bisa bersedih. Namun mereka tidak berkata-kata, melainkan dengan sesuatu yang diridhai Allah Ta’ala.

Demikian pula, pembunuhan terhadap diri Al-Husain Radhiallahu Anhu adalah kemaksiatan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Siapa pun yang terkait dengan pembunuhan itu berdosa. Baik secara langsung maupun tidak. Bahkan orang yang membenarkan pembunuhan tersebut.

Ketahuilah, mereka yang terlibat dalam tragedi memiriskan itu benar-benar kaum bodoh dan keji. Lihatlah, setelah Al-Husain wafat bersimbah darah, seluruh barang bawaannya mereka rampas. Termasuk barang-barang milik keluarganya.

Diriwayatkan, ketika salah seorang mereka mengambil perhiasan milik Fathimah binti Al-Husain, putri Al-Husain, orang itu tiba-tiba menangis. Fathimah bertanya heran: “Mengapa engkau menangis?” Ia menjawab: “Aku telah merampas barang milik putri (cucu) Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Pantaskah aku bila tidak menangis?!”.

Maka Fathimah berkata: “Kalau begitu, jangan kamu ambil perhiasan itu!” Orang tersebut lantas menjawab: “Tidak bisa, aku khawatir ia akan diambil orang lain”. Lihat kisah ini dalam kitab “Siyar A’lam An-Nubala” karya Adz-Dzahabi 3/303, Cet. Ar-Risalah.

Hal lain yang juga penting dan layak disinggung di sini, bahwa kaum wanita yang ikut dalam rombongan Al-Husain tersebut ditempatkan pada posisi yang aman. Tidak diganggu, apalagi ikut dibantai.

Mereka tetap diperlakukan secara terhormat. Tidak dijadikan tawanan. Karena itu, semua berita rekaan kaum Syiah terkait kaum wanita yang dirantai, lalu digiring masuk ke dalam kota Kufah, sama sekali tidak benar. Penuh dengan kedustaan dan pemalsuan.

Dalam kitabnya, “Minhaj As-Sunnah” 2/249, Ibnu Taimiyah berkata: “Adapun yang disebutkan bahwa istri dan anak-anak Al-Husain diperlakukan sebagai tawanan perang dan mereka diarak keliling negeri di atas punggung unta tanpa pelana, maka semua ini adalah dusta dan batil”.

Beliau menambahkan: “Kaum Muslimin tidak ada yang menawan wanita Bani Hasyim dan tidak pula pernah menghalalkan wanita Bani Hasyim. Akan tetapi, para pengusung hawa nafsu dan kebodohan banyak membuat kebohongan terkait hal ini”.

Disebutkan dalam “Sirah Ali Ibn Abi Thalib” karya Dr. Ash-Shallabi, saat keluarga Al-Husain tiba di hadapan Yazid, Fathimah binti Al-Husain berkata: “Wahai Yazid, apakah cucu-cucu Rasulullah adalah tawanan?”. Yazid menjawab: “Tidak. Bahkan mereka adalah wanita-wanita merdeka yang mulia”.

Demikianlah, dalam perang fitnah antara kelompok kaum Muslimin, tidak boleh melakukan penawanan. Ini sebagaimana diajarkan Khalifah Ali bin Abi Thalib terkait “Fiqih Menghadapi Bughot” atau kelompok pemberontak dari kalangan kaum Muslimin.

Kejadian ini juga menguatkan, sedahsyat apapun pertempuran yang dilakoni kaum Muslimin, tetap kaum wanita dan anak-anak mendapat perlindungan dan tidak boleh diganggu. Baik semasa perang lagi berkecamuk, maupun setelah terjadi penaklukkan.

Ini lantaran pesan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada kaum Muslimin saat terjadi perang dengan negeri-negeri non Muslim. Jika itu yang dilakukan kaum muslimin terhadap wanita-wanita serta anak-anak non Muslim, maka bagaimana jika dia seorang Muslimah, apalagi keturunan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam?!

Tentu mereka akan lebih hormat dan menghargainya. Sangat tidak masuk akal jika kaum Muslimin menghormati wanita kafir yang telah kalah perang, kemudian berani menghinakan wanita Muslimah yang berasal dari keturunan paling terhormat. Wallahu A’lam.

Ustadz Rappung Samuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better