Siapa Bertanggungjawab Atas Darah Al-Husain Radhiallahu Anhu? (2)

Dalam bahasan lalu diceritakan, pasca wafatnya Al-Husain bin Ali secara Zalim, tidak ada dari keluarga beliau yang ditawan atau diperlakukan secara buruk oleh pasukan Kufah. Semuanya tetap mendapat kehormatan, dan kemudian diantar masuk ke dalam kota Kufah.

Setelah itu, datang perintah dari Yazid bin Mu’awiyah untuk memboyong keluarga Al-Husain ke Syam. Yang demikian setelah sampai kepadanya surat dari Ubaidullah bin Ziyad perihal keluarga Al-Husain. Selama berada di Syam, keluarga Al-Husain mendapat kemuliaan dan pelayanan istimewa dari Yazid.

Di Syam, Yazid mengutus seseorang kepada setiap wanita Bani Hasyim untuk menanyakan hajat dan kebutuhannya. Tidak ada seorang pun dari mereka yang menyebutkan hajatnya, sebesar apapun, melainkan Yazid berikan berlipat ganda darinya. Lihat keterangan ini dalam “Tarikh Ath-Thabari” 5/397.

Bahkan disebutkan oleh Ibnu Sa’ad dalam “Thabaqat”nya, 5/397, bahwa Yazid tidak makan pagi dan petang kecuali mengajak Ali bin Al-Husain.

Di samping itu semua, Yazid memerintahkan An-Nu’man bin Basyir menyiapkan seluruh perbekalan mereka untuk perjalanan menuju Madinah. Tidak ada hajat yang mereka butuhkan, bahkan hingga tiba di Madinah melainkan dipenuhi olehnya.

Yazid juga menawarkan keluarga Al-Husain untuk menetap bersamanya di Syam dengan segala kemuliaan dan kehormatan. Akan tetapi, mereka menolak dan memilih kembali ke Madinah.

Dalam “Tarikh Ath-Thabari” 6/393 disebutkan, saat mereka akan meninggalkan Damaskus, berkali-kali Yazid memohon maaf kepada Ali bin Al-Husain terhadap apa yang telah terjadi atas diri Al-Husain di Karbala.

Saat itu, Yazid berkata: “Semoga Allah melaknat Ibnu Marjanah (Ubaidullah bin Ziyad). Demi Allah, andai saja aku yang menghadapinya (Al-Husain), niscaya aku penuhi apapun yang diminta olehnya –yakni tawaran perdamaian-.
Sungguh, aku akan menghindarkan kematian darinya sebisa mungkin sekalipun dengan mengorbankan sebagian anakku. Akan tetapi, Allah menetapkan apa yang Dia ingikan. Bersuratlah bila ada hajat kebutuhanmu kepadaku”.

Ibnu Katsir dalam kitabnya “Al-Bidayah wa An-Nihayah” berkata tentang Yazid: “Dia memuliakan keluarga Al-Husain dan mengembalikan segala yang hilang dari mereka bahkan melipatgandakannya. Juga memulangkan mereka dalam sebuah kafilah kehormatan yang besar. Keluarga Yazid turut berduka atas kematian Al-Husain”.

Setelah itu, keluarga Al-Husain meninggalkan kota Damaskus dengan dikawal penuh kehormatan dan penjagaan hingga mereka tiba di kota Madinah. Lihat “Mawaqif Al-Mu’aridhah”, karya Dr. Asy-Syaibani.

Nah, pertanyaan yang tersisa terkait peristiwa tragis di Karbala adalah, siapakah yang bertanggung jawab terkait pembunuhan Al-Husain beserta Ahlul Bait Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam? Perkara ini sangat penting untuk diungkap. Sebab jangan sampi kita memikulkan sebuah tanggungjawab kesalahan terhadap pihak yang tidak bersalah.

Sekurangnya ada beberapa pihak yang harus bertangungjawab dalam persitiwa menyedihkan ini. Dan pertama yang paling harus bertanggung jawab atas darah cucu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah penduduk Kufah. Sebab, merekalah yang meminta Al-Husain agar bersedia dibai’at dan datang ke Kufah.

Untuk menyakinkannya, penduduk Kufah tersebut mengirimkan kepada beliau surat-surat yang menujukkan kesiapan menyambut Al-Husain di Kufah, hingga akhirnya Al-Husain membulatkan tekad keluar menuju negeri tersebut. Kendati para sahabat yang mulia sudah memperingati beliau akan sifat khianat penduduk Kufah, serta bahaya yang bakal dihadapinya.

Namun celakanya, saat perang Thaf di Karbala, tak ada seorang pun dari mereka yang turun membantu beliau. Bahkan mereka justru berkhianat dan berdiri dalam barisan pasukan yang hendak membunuh beliau. Sungguh, celaan dan hinaan-lah yang pastas bagi mereka.

Dalam bahasan lalu jelas dinyatakan, pihak yang paling bertanggungjawab terkait darah Al-Husain adalah penduduk Kufah. Atau biasa disebut Syi’ah Al-Husain. Merekalah yang telah mengkhianati Al-Husain.

Bukan hanya mengkhianatinya terkait bai’at yang telah diberikan melalui Muslim bin ‘Aqil (Ia diutus duluan ke Kufah sebelum Al-Husain masuk ke Kufah guna memastikan kebenaran dukungan mereka kepadanya). Bahkan mereka pun kemudian membiarkan Muslim bin ‘Aqil dibunuh secara zalim oleh Ubaidillah, serta berdiri bersama pasukan gubernur zalim itu untuk menghabisi nyawa beliau.

Karena itu, saat rombongan Ahlul Bait yang tersisa masuk negeri Kufah dengan penuh kehormatan, orang-orang pun berbondong-bondong keluar menyambut mereka sambil menangis pilu. Maka saat itulah Fathimah binti Al-Husain mengecam mereka dengan keras.

Dalam riwayat disebutkan, Fathimah berkata: “Wahai penduduk Kufah, kalian adalah para penipu dan pengkhianat! Kalian adalah orang-orang congkak! Kami ini keluarga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Allah menguji kami dengan keberadaan kalian dan menguji kalian dengan keberadaan kami. Hanyasaja Allah menjadikan ujian yang menimpa kami sebagai ujian yang baik. Ingatlah, laknat Allah pasti menimpa orang-orang yang zalim!”.

Fathimah juga mengatakan: “Celakalah kalian! Sadarkah kalian, tangan siapa yang telah menikam kami? Hati siapa yang tega memerangi kami? Kaki siapa yang terayun untuk memerangi kami? Demi Allah, hati kalian benar-benar keras seperti batu. Kalian sudah tidak punya perasaan lagi. Wahai penduduk Kufah, kalian benar-benar celaka!”. (Lihat kitab “Mausu’ah Al-Hasan wa Al-Husain”, karya Sayyid Hasan Al-Husaini).

Hal yang sama dikatakan oleh Zainal Abidin saat menyaksikan penduduk Kufah menangis dan histeris sejadi-jadinya, beliau lantas berteriak di hadapan mereka: “Kenapa kalian menangisi kami? Kalian pikir, siapa yang telah membunuh kami?!”. (Terkutip dalam “Mausu’ah Al-Hasan wa Al-Husain)”.

Bahkan pengkhianatan keji ini tidak lepas dari kecaman ulama-ulama Syi’ah sendiri. Di sebutkan, bahwa Sayyid Muhsin Al-Amin dalam “A’yan Asy-Syi’ah 1/34 menyatakan: “Dahulu ada 20.000 penduduk Irak membai’at Al-Husain. Akan tetapi, mereka kemudian membelot, mengkhianatinya, bahkan membunuhnya, sementara bai’at masih mengikat mereka semua”.

Juga Husain Kurani, ia berkata: “Penduduk Kufah tidak hanya berkhianat terhadap Imam Al-Husain, tetapi juga mengambil sikap ketiga –lantaran tidak punya pendirian- yakni berlomba-lomba menuju Karbala untuk memerangi Al-Husain.

Lihatlah Amr bin Al-Hajjaj, saat di Kufah dia tampil bak pahlawan yang siap membela dan melindungi Ahlul Bait. Bahkan dia sempat memimpin pasukan untuk melindungi sang komandan, Hani bin Urwah. Akan tetapi, setelah itu Amr bin Hajjaj menjilat kembali semua sikap kepahlawanannya, bahkan menuduh Al-Husain telah keluar dari agama”. (Lihat keterangan ini dalam Ash-Shawaiq Al-Muhriqah, Ibnu Hajar Al-Haitami 2/572).

Demikianlah, sebab sikap khianat ini telah begitu melekat pada penduduk Kufah. Karena itu, Imam Al-Baghdadi dalam bukunya “Al-Farq Baina Al-Firaq” hlm. 37 menyebutkan, bahwa penduduk Kufah sangat terkenal dengan tabiat khianat tersebut. Dan pengkhianatan terbesar mereka yang sempat terekam sejarah ada tiga:

Pertama: Setelah Ali terbunuh, mereka membai’at Al-Hasan. Akan tetapi, mereka kemudian mengkhianati Al-Hasan di daerah Sabath Al-Madain, dan Sinan Al-Ju’fi menikam beliau.

Kedua: Mereka menulis surat kepada Al-Husain mengajaknya datang ke Kufah dan mereka akan mendukungnya melawan Yazid bin Mu’awiyah. Al-Husain pun tertipu oleh mereka dan bersedia datang.
Akan tetapi, tatkala Al-Husain di Karbala, mereka mengkhianatinya, bahkan bergabung dengan pasukan Ubaidullah bin Ziyad, hingga Al-Husain dan kebanyakan keluarganya syahid di Karbala.

Ketiga: Mereka juga mengkhianati Zaid bin Ali bin Al-Husain. Mereka membatalkan bai’atnya dan menyerahkannya kepada musuh saat perang sedang berkecamuk. Wallahu A’lam.

Ustadz Rappung Samuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better