Siapa Bertanggungjawab Atas Darah Al-Husain Radhiallahu Anhu (3)

Kajian ini masih terkait siapa yang bertanggungjawab terkait darah Al-Husain yang tumpah di Karbala. Disebutkan, bahwa pihak pertama paling bertanggungjawab dalam persoalan ini adalah penduduk Kufah. Merekalah yang membai’at, lalu mengajak Al-Husain ke Kufah, kemudian mengkhianatinya.

Adapun pihak lain yang juga terikat tanggungjawab yang sangat besar terhadap darah Al-Husain Radhiallahu Anhu adalah Gubernur zalim, Ubaidullah bin Ziyad; sang aktor tragedi Karbala yang memiriskan.
Ubaidullah bin Ziyad adalah gubernur Kufah dan Bashrah saat itu. Terkenal bengis, kasar, kejam, zalim, dan suka merendahkan sahabat serta Ahlul Bait Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Secara personal, dialah yang paling bertanggungjawab atas terbunuhnya Al-Husain dan Ahlul Bait Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di Karbala, setelah sebelumnya dia juga telah membunuh Muslim bin Aqil dan Hani bin Urwah.

Laki-laki ini –semoga Allah membalas keburukannya- pernah didatangi oleh seorang sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bernama A’idz bin Amr Al-Muzani Radhiallahu Anhu dan berkata padanya: “Anakku, sungguh aku mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: “Pemimpin yang paling buruk adalah pemimpin yang kasar (bengis), maka janganlah engkau termasuk di antara mereka”.
Ubaidullah bin Ziyad menjawab: “Duduklah, kamu ini hanya orang rendahan dari sahabat Muhammad”. Maka A’idz menimpali: “Adakah pada mereka (sahabat) orang rendahan? Sungguh, orang rendahan hanya ada pada sesudah dan selain mereka”. Lihat “Shahih Muslim”, hadits no. 1830.

Dalam Kitab “Mausu’ah Al-Hasan wa Al-Husain” disebutkan, bahwa ketika sisa rombongan Al-Husain masuk ke Istana Ubaidullah, orang ini sempat berkata kepada mereka dengan nada hinaan: “Segala puji bagi Allah yang telah mempermalukan dan membinasakan kalian”.

Maka Zainab binti Ali pun berkata tegas: “Tidak, tetapi segala puji bagi Allah yang telah memuliakan kami dengan sosok Muhammad dan membersihkan kami sebersih-bersihnya. Kondisi kami tidak seperti yang kau katakan. Yang ada sekarang adalah seorang fasik yang membuka aibnya sendiri dan seorang fajir yang sedang berdusta”.

Zainab menambahkan: ”Allah telah menakdirkan mereka (Ahlul Bait) syahid di medan perang lalu istirahat di pembaringan terakhir. Pada hari kiamat, Allah pasti akan mempertemukanmu dengan mereka, dan mereka akan menuntutmu di hadapan-Nya!”.

Maka itulah, dalam fatwanya, Imam Ibnu Shalah berkata: “Yang shahih, bahwa perintah membunuh Al-Husain yang membuatnya syahid (di Karbala) datang dari Ubaidullah bin Ziyad”. Terkitip dalam buku Dr. Asy-Syaibani, “Mawaqif Al-Mu’aridhah”, hlm. 295.

Yah, tanggungjawab dan dosa paling besar di hadapan Allah berada di pundak Ubaidullah bin Ziyad. Dialah yang menolak tawaran Al-Husain bin Ali untuk berdamai dan pergi ke Syam agar dapat membai’at Yazid. Sejarah tidak akan pernah menerima sikap buruknya tersebut. Mencelanya dengan celaan terburuk. Serta menyudutkannya bersama kesewenang-wenangan yang telah dia lakukan.

Nah, dalam “Tarikh Dimasyq”, 37/459 disebutkan bahwa pada tahun 61 H, Mukhtar Ats-Tsaqafi memerangi penduduk Kufah dan mengutus Ibrahim bin Al-Asytar untuk mengejar Ubaidullah bin Ziyad.

Perang antara pasukan Ibrahim Al-Asytar dan pasukan Ubidullah tidak dapat dielakkan, hingga berakhir dengan kekalahan pasukan Ubaidullah. Dia pun terbunuh bersama dengan salah satu orang dekatnya Hushain bin Numair. Setelah itu, kepala Ubadullah dipengal dan dikirimkan kepada Mukhtar Ats-Tsaqafi.

Uniknya, Allah menakdirkan Ubaidullah tewas pada tanggal 10 Muharram tahun tahun 67 H, persis seperti hari di mana Al-Husain Radhiallahu Anhu Syahid di Karbala. Dari Mukhtar kepala Ubaidullah lalu dikirim kepada Abdullah bin Az-Zubair, kemudian dikirimkan lagi kepada Ali bin Al-Husain (Ali Zainal Abidin).

Setelah penduduk Kufah dan gubernurnya Ubaidullah bin Ziyad yang paling harus bertanggungjawab terkait darah Al-Husain bin Ali Radhiallahu Anhu, maka masih ada beberapa pihak yang terkait dengannya, sebab punya andil besar dalam pembantaian cucu Rasulullah itu.

Di antara mereka, komandan pasukan Kufah, Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Laki-laki ini termasuk yang harus bertanggung jawab atas terbunuhnya Al-Husain. Saat itu, dia ditunjuk Ubaidullah sebagai komandan pasukan Kufah yang dikirim untuk menumpas Al-Husain.

Sungguh ia merupakan penerus yang buruk bagi bapaknya, Sa’ad bin Abi Waqqash salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Juga wakil Khalifah Ali saat bertahkim dengan Mu’awiyah yang waktu itu diwakili Amr bin Al-Ash.

Kendati awalnya ia menolak berhadapan dengan Al-Husain dan mencari jalan keluar terbaik untuk tidak berperang melawan cucu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para pengikutnya. Tapi intimidasi Ubaidullah untuk mencopotnya dari jabatan gubernur di Ar-Rayy membuatnya goyah dan terpaksa menuruti kemauan nafsu Ubaidullah.

Padahal, seharusnya dia menarik diri dan menjauh dari terlibat dalam pembunuhan Al-Husain, seperti yang dilakukan Al-Hurr bin Yazid seorang komandan yang diutus Ubaidullah mengawasi dan mencegat Al-Husain masuk ke Kufah.

Saat menyaksikan kesewenang-wenangan Ubaidullah dan jumlah pasukan yang sangat tidak seimbang, beliau (Al-Hurr) membelot dan bergabung dalam pasukan Al-Husain hingga gugur sebagai syahid. Posisinya sama dengan Umar bin Sa’ad, sama-sama mengetahui akibat dari pembelotannya.

Sebenarnya, keluarga-keluarga dekat Umar bin Sa’ad sudah memberi nasehat padanya agar jangan berhadapan dengan Al-Husain. Di antaranya, anak saudara perempuannya, Hamzah bin Al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata:
“Wahai paman, aku mohon, jangan keluar berhadapan dengan Al-Husain, karena dengan itu engkau akan memikul dosa di depan Tuhanmu dan memutuskan tali rahimmu. Demi Allah, andai engkau memiliki kekuasaan dan juga harta sepenuh jagat, lalu semua itu lenyap dari tangamu, niscaya hal itu lebih baik ketimbang engkau harus memikul darah Al-Husain di hadapan Allah Ta’ala!”.

Celakanya, Umar tetap berangkat memenuhi seruan Ubaidullah untuk memerangi Al-Husain dalam kondisi tidak ada baginya sebarang alasan syar’i. Apalagi, ia adalah orang yang paling tahu permintaan Al-Husain di akhir kepasrahan terhadap kondisi yang makin terjepit. Al-Husain saat itu mengajukan perdamaian kepada Ubaidullah.
Opsi perdamaian itu adalah ia diizinkan kembali ke Madinah, atau menghadap Yazid untuk berbai’at, atau dikirim ke perbatasan dan bertempur hingga gugur. Umar bin Sa’ad tahu semuanya.

Bahkan ia tahu kalau Ubaidullah yang menolak opsi tersebut dan hanya menginginkan darah Al-Husain. Hingga tidak ada pilihan baginya saat itu melainkan dua hal. Menghadapi Al-Husain atau menyingkir dari perang dengan segala resikonya. Sungguh merupakan sikap teledor dan kesalahan sangat fatal.

Selain Umar bin Sa’ad, pihak lainnya yang juga harus bertanggung jawab atas tumpahnya darah Al-Husain adalah para pembunuh secara langsung terhadap diri Al-Husain. Yakni personal pasukan Kufah yang berada di bawah komando Umar bin Sa’ad.

Mereka adalah Sinan bin Anas An-Nakha’i yang telah menikam dan memenggal kepala Al-Husain menurut satu riwayat, Syamr bin Dzi Al-Jausyan yang menurut riwayat lain sebagai pelaku pemenggalan terhadap kepala Al-Husain.

Orang ini (Syamr bin Dzi Jausyan) pula yang memengaruhi Ubaidullah untuk tidak menerima tawaran Al-Husain berdamai, terakhir Khauli bin Yazid orang yang membawa kepala Al-Husain ke hadapan Ubaidullah.

Sungguh, apa yang telah mereka lakukan merupakan dosa serta aib bagi diri dan agama mereka. Bagi mereka kehinaan di dunia serta tanggungjawab di hadapan Allah Ta’ala kelak. Wallahu A’lam

Ustadz Rappung Samuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better