Siapa Bertanggungjawab Atas Darah Al-Husain Radhiallahu Anhu (4)

Telah disinggung pada bahwasan lalu pihak-pihak yang harus bertanggung jawab atas pembunuhan Al-Husain bin Ali di karbala. Dan bahwasanya, penduduk Kufah dan gubernurnya Ubaidullah bin Ziyad yang paling bertanggung jawab atasanya. Demikian juga dengan panglima pasukan saat itu, Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash.

Adapun Yazid bin Mu’awiyah selaku Khalifah saat itu, maka pendapat para ulama berbeda tentangnya. Yakni, antara yang membebankan tanggung jawab tersebut dan yang tidak membebankannya.

Ala kulli hal, jika pun Yazid harus bertanggung jawab, maka kadarnya tidak seperti penduduk Kufah, Ubaidullah bin Ziyad, komandan pasukan Kufah, serta orang-orang yang langsung membunuhnya. Maka itulah, tidak ada alasan yang dibenarkan untuk melaknat Yazid terkait peristiwa ini. Sekali lagi, melaknat!

Telah disebutkan, bahwa Yazid tidak membunuh Al-Husain, serta tidak pula memerintahkan pembunuhan keji tersebut. Dan ini bukan sebagai pembelaan terhadap Yazid, akan tetapi ungkapan akan hakikat sebenarnya apa yang terjadi.

Dalam riwayat disebutkan, sebagai pemimpin tertinggi negara wajar saja Yazid mengutus Ubaidillah bin Ziyad untuk mencegah masuknya Al-Husain ke Kufah. Akan tetapi, ia tidak memerintahkan membunuhnya. Yang demikian agar fitnah tidak terjadi dalam tubuh kaum Muslimin.

Bahkan jika dicermati rentetan sejarah yang ada, secara pribadi Al-Husain bin Ali pun berbaik sangka terhadap Yazid, hingga beliau berkata kala telah terkepung: “Biarkan diriku pergi menghadap Yazid, agar aku letakkan tanganku di atas tangannya (membai’atnya)”.

Ibnu Shalah dalam “Fatawa”nya hlm. 216-219, berkata: “Tidak sahih menurut kami, bahwa ia (Yazid) memerintahkan membunuhnya –yakni Al-Husain-. Yang sahih, orang yang memerintahkan membunuh beliau hingga kemudian terjadilah peristiwa Karbala adalah Ubaidullah bin Ziyad, gubernur Irak saat itu”.

Ibnu Taimiyah menambahkan: “Yazid bin Mu’awiyah tidak memerintahkan membunuh Al-Husain menurut kesepakatan ahli sejarah. Akan tetapi, beliau hanya menulis surat kepada Ibnu Ziyad agar menghalangi beliau masuk wilayah Irak.
Maka itu, ketika sampai kepada Yazid berita pembunuhan Al-Husain nampak beliau sangat terpukul dan berduka, bahkan menangis di dalam rumahnya. Beliau tidak menawan keluarganya, bahkan memuliakan, memberi hadiah hingga mengembalikan ke negeri mereka”. Lihat “Minhaj As-Sunnah”, 4/557-559.

Ibnu Katsir berkata: “Tidak ada dari pasukan yang ridha terhadap pembunuhan Al-Husain apalagi Yazid bin Mu’awiyah. Bahkan, kuat dugaan, andaipun Yazid sanggup membunuhnya, pasti dia akan memberikan ampunan padanya, sebagaimana wasiat dari bapaknya (untuk memuliakan Al-Husain). Dan ini yang diungkap oleh Yazid terkait dirinya. Sungguh, atas peristiwa ini Yazid melaknat dan mencela Ubaidullah atas perbuatannya sesuai dengan apa yang nampak”. Lihat “Al-Bidayah”, 2/202-203.

Lebih jauh Imam Al-Ghazali menyatakan: “Jika dikatakan, apakah boleh melaknat Yazid dikarenakan telah membunuh atau memerintahkan pembunuhan Al-Husain?”.
Maka kami katakan: “Ini tidak sahih secara asal. Tidak boleh dikatakan bahwa ia membunuhnya atau memerintahkan pembunuhannya selama keterangan yang ada tidak shahih, apalagi sampai melaknatnya. Sebab, tidak boleh menisbatkan sebuat dosa besar pada seorang muslim tanpa melalui penelitian akan kebenarannya”. Lihat kitab beliau, “Ihya’ Ulum Ad-Din”.

Bahkan, andai pun benar Yazid yang membunuh atau memerintahkan pembunuhan Al-Husain atau bergembira dengan pembunuhannya, maka sikap ini bukan karena menghalalkan perbuatan itu, akan tetapi karena sebuah takwil batil.

Dan perbuatan takwil ini, tidak diragukan merupakan kefasikan dan bukan kekufuran. Maka bagaimana jika berita pembunuhan tersebut tidak shahih, tidak pula berita kegembiraannya. Bahkan, riwayat shahih yang ada menunjukkan sebaliknya?

Telah disinggung terkait posisi Yazid dalam tanggungjawab terhadap darah Al-Husain Radhiallahu Anhu. Bahwasanya, padanya terjadi perbedaan di kalangan ulama, antara yang mutlak memikulkan tanggungjawab tersebut dengan yang tidak.

Akan tetapi, jika pun Yazid harus ikut memikul tanggungjawab terhadap darah Al-Husain, maka tanggungjawab itu tidak sebesar penduduk Kufah, Ubaidullah bin Ziyad, serta panglima pasukan Kufah saat itu, yakni Umar bin Sa’ad.

Nah, pendapat yang menyatakan bahwa Yazid harus ikut bertanggungjawab mengatakan, kendati tidak terlibat secara langsung, tidak memerintahkan, dan tidak ridha terhadap pembunuhan Al-Husain, juga banyak diutarakan para ulama Ahlus Sunnah.

Alasannya, Al-Husain terbunuh secara zalim di zaman kekhilafahannya dan di bumi yang dikuasai oleh pasukannya. Walau saat itu ia hanya memerintahkan Ubaidullah untuk mengawasi dan mencegah Al-Husain masuk ke negeri Kufah.

Diriwayatkan, atas peristiwa ini Yazid menangis dan melaknat Ibnu Ziyad atas kelancangannya. Hal ini dikuatkan, bahwa sebelumnya beliau telah meminta kepada Ibnu Abbas Radhiallahu Anhuma untuk menasehati Al-Husain agar membatalkan niatnya berangkat ke Kufah.

Akan tetapi, sekali lagi semua itu tidaklah membebaskan dia dari tanggungjawab tersebut. Yazid saat itu sanggup memberi perintah secara jelas dan gamblang kepada Ubaidullah untuk tidak membunuh Al-Husain, namun itu tidak dilakukan.

Tidak hanya itu, Yazid juga membiarkan para pembunuh Al-Husain bebas berkeliaran tanpa dihukum qishash, atau minimal mencopot jabatan mereka. Sekali lagi tidak. Makanya, pembunuhan Al-Husain akan selalu menjadi aib dan noktah hitam yang mencoreng masa kekuasaan Yazid bin Mu’awiyah.

Ibnu Taimiyah dalam “Minhaj As-Sunnah” 4/558 berkata: “Kalaupun benar Yazid bersedih atas kematian Al-Husain, namun pada waktu yang sama tidak menunjukkan pembelaan terhadapnya. Buktinya, ia tidak menjatuhkan hukum qishas terhadap pihak-pihak yang telah membunuh Al-Husain, apalagi sampai menuntut balas atas kematiannya”.

Ibnu Katsir dalam “Al-Bidayah wa An-Nihayah” 9/204 berkata: “Namun ia –Yazid bin Mu’awiyah- tidak mencopot Ubaidullah bin Ziyad karena pembunuhan tersebut, tidak menjatuhkan hukuman terhadapnya, juga tidak mengirim utusan untuk mencelanya atas kejadian itu”.

Iya, seluruh tudingan dan tuduhan di atas layak diarahkan kepada Yazid. Namun sekali lagi, itu tidak kemudian menjadi alasan untuk melaknat Yazid. Dan jika dirinci alasan yang dikemukan di atas, maka ia berkisar pada poin: Tidak adanya perintah konkrit dari Yazid untuk tidak membunuh Al-Husain, tidak adanya upaya Yazid menghukum para pembunuh Al-Husain, tidak mencopot jabatan Ubaidullah bin Ziyad, dan sebagainya.

Satu hal yang perlu dipahami, bahwa ketidakadaan sikap Yazid terkait apa yang dituduhkan tersebut, bisa saja lantaran kondisi yang tidak memungkinkan, hingga menjadi pertimbangan besar bagi Yazid untuk mencopot Ubaidullah bin Ziyad serta menghukum mati orang-orang terlibat dalam darah Al-Husain.

Misalnya, pertimbangan masalah kegoncangan politik negara jika mereka dihukum atau dipecat, besarnya pengaruh dan kedudukan mereka di tengah-tengah kabilahnya, dan selainnya.

Intinya, perkara-perkara Siyasah dan mashlahat bagi negara kadang harus diutamakan. Sebab ia menyangkut mashlahat banyak orang, serta rentan melahirkan fitnah dan kerusakan lebih besar terhadap kaum Muslimin.

Dan karena alasan ini pula, mengapa Khalifah Ali bin Abi Thalib menunda untuk mengqishash para pembunuh Utsman bin Affan, kendati kebijakan yang diambil itu berbuah dua perang besar, yakni perang Jamal dan Shiffin.

Demikian uraian terkait pihak-pihak yang harus bertanggungjawab terhadap darah cucu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sungguh merupakan sebuah tragedi sejarah yang layak dicatat dengan air mata, serta menjadi cela dan aib bagi kekuasaan bani Umayyah. Wallahu A’lam. Semoga bermanfaat.

Selesai.

Ustadz Rappung Samuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better