Terorisme yg Hilang dari Makna Teror, Jadilah Terorisme yg Lucu!

Sepertinya belum ada teori yg bisa menjelaskan bagaimana kasus-kasus terorisme melanda negeri ini. Secara teori, terorisme itu adalah satu aksi, biasanya berupa serangan fisik dengan target tertentu, dan si pelaku teror ingin agar aksi tersebut menjadikan orang lain menjadi takut atau merasa terteror. Akar kata terorisme itu ‘teror’ yg memang ditujukan supaya aksi tersebut menimbulkan rasa ketakutan, rasa tidak aman, tidak nyaman, takut dengan pelaku teror dst. Secara teori, seseorang akan takut berhadapan dengan teroris, karena teroris tidak pandang bulu dalam melakukan serangan. Misalnya; Ketika seseorang bermasalah dengan seorang teroris, bisa saja si teroris itu menghabisinya dengan cara mengebom rumahnya, atau sekolahnya, atau gedung bioskop tempat ia menonton film. Jadi aksi teroris itu diluar nalar dan diluar prikemanusiaan. Itulah makanya secara nalar, manusia akan takut dengan tindakan terorisme.

Coba bandingkan dengan beberapa kasus terorisme di Indonesia belakangan ini, ada beberapa yg sulit dijelaskan dengan logika berpikir (saya). Teroris menggunakan bom ikan, bom molotov, bom buku, bom panci, mercon, terakhir malah menggunakan pisau. Ini sudah teroris, miskin, memalukan lagi!

Tidak usah menggunakan analisis yg terlalu mendalam soal beginian, ajukan saja pertanyaan mendasar soal terorisme, “Dimana bentuk terornya?”

Terorisme di Indonesia itu bukannya menjadikan masyarakat takut (terteror), tetapi malah lucu, masyarakat menertawakan teroris sekaligus terorisme, masyarakat dibuat tertawa dan terhibur dengan aksi teroris yg mengancam nyawa dengan pisau, yg bahkan terorisnya sendiri dilawan oleh anak-anak sekolah.

Sehingga wajar kalau muncul gerakan masyarakat yg menyatakan ‘perang melawan terorisme’ wong terorisnya bersenjatakan pisau yg minim damage dan impact. Coba kalau teroris kita menggunakan bom yg bisa menghancurkan gedung sekolah atau meluluhlantakkan rumah sakit seperti di luar negeri, tentu masyarakat kita akan takut dengan sendirinya dengan teroris. Padahal dengan itulah sejatinya teori terorisme baru bisa digunakan dan dianalisis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better