Empat Langkah Proyek Deislamisasi di Indonesia

Kelompok nasionalis sekuler terutama yg anti islam di berbagai negara memiliki program dan menempuh langkah yg berbeda-beda sesuai karakter bangsa dan penduduknya dalam menerapkan proyek DEISLAMISASI dalam rangka menekan kelompok islam fundamental.

Di Indonesia, proyek “DEISLAMISASI” dimulai dengan beberapa langkah strategis;

1. Propaganda islam radikal, intoleran, khilafah, ISIS.
Propaganda ini bukan tanpa maksud dan tujuan, atau bukan sekedar tujuan kekuasaan semata. Ada tujuan yg lebih dari besar dari itu, yakni memisahkan antar kelompok islam, terutama dua kelompok islam mainstream; islam tradisional dan islam modern. Kelompok islam modern distigmakan sebagai kelompok islam yg membawa ideologi transnasional yg membahayakan identitas islam lokal/tradisional, sehingga praktis sejak dimulainya propaganda tersebut, kedua kelompok islam mainstream tersebut hampir tidak pernah akur. Maka polarisasi semakin menguat dan identitas islam tradisional-pun semakin mengakar kuat membuat benteng (permusuhan) melawan kelompok islam modern.

2. Pembubaran HTI
Setelah masyarakat tercuci otaknya dengan stigma islam radikal, intoleran, ISIS dlsb, tiba waktunya membubarkan organisasi yg terstigma tersebut yg sudah ada sejak era 80an dan tidak ada masalah dihadapan 5 presiden sejak Soeharto hingga SBY. Baru di masa presiden sekarang-lah HTI menjadi musuh bersama. Bahkan HTI dikesankan lebih buruk dari PKI yg mempunyai sejarah kelam selama 3x pemberontakan di Indonesia; 1926, 1948 dan 1965.

3. Pembubaran FPI
Setelah HTI dibubarkan oleh kekuasaan (bukan oleh pengadilan), maka program deislamisasi dilanjut dengan ormas yg lagi-lagi dianggap radikal dan intoleran, terpapar ISIS dlsb.

FPI dalam perjalanannya memang banyak dipenuhi kontroversi, terutama soal sikap main hakim sendiri terhadap para pelaku maksiat. Ada polemik tersendiri untuk itu, di satu sisi FPI main hakim sendiri, mengabaikan hukum dll. Di sisi lain, FPI justru membantu aparat kepolisian menegakkan hukum, terutama di negeri yg mayoritas ummat islam. FPI juga meringankan tugas penegak hukum mengontrol masyarakat yg ingin hidup bebas tanpa aturan. OK-lah, itu soal perbedaan sudut pandang saja.

Namun perlu diketahui bahwa setiap harakah islam (organisasi islam) pastilah mengalami apa yg disebut dengan transformasi pergerakan, yakni pola gerak organisasi yg berubah sesuai perkembangan sosial masyarakat dan melihat kepada konteks hukum menurut organisasi tersebut. FPI mengalami perubahan dari pola yg dulu dikenal main hakim sendiri berubah menjadi lebih taat hukum dan mengedepankan sikap amar ma’ruf nahi mungkar secara lebih konstitusional.

4. Pembubaran MUI
Langkah terakhir dari para pengusung gerakan islamofobia setelah ketiga langkah di atas, maka MUI menjadi target untuk dibubarkan berikutnya. Langkah pembubarannya mungkin tidak saja secara frontal dengan membubarkan organisasinya, namun bisa dengan mengebiri hak MUI dalam menjaga dan mengawal syariat islam. MUI adalah benteng terakhir ummat di negeri ini, dimana ia beranggotakan para ulama dan cendekiawan serta tokoh dari lintas ormas islam yg telah mengakar kuat di negeri ini, baik dari NU, Muhammadiyah, dll.

Apa yg tersisa dari islam di negeri ini jika MUI dibubarkan? Islam hanya akan nampak di masjid dan di rumah saja, karena bicara islam di ranah publik bakal dicap radikal, intoleran, pengusung khilafah dan ISIS. Dan proyek itu sedang berlangsung saat ini..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better